Gereja Tua Malak di Desa Laikit, Saksi Perang dan Perdamaian

gereja-tua-malak-di-laikit_20160515_093201AIRMADIDI –  Memasuki Gereja Tua Malak di Desa Laikit, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara, bak memasuki lorong waktu yang menuntun siapapun kembali ke masa-masa awal kekristenan di tanah Minahasa.
Gereja itu masih mempertahankan bentuk aslinya seperti kala ditahbiskan pada 1927.

Bangunannya berbahan dasar kayu, dengan bentuk mirip gereja di pedesaan Amerika yang bergaya ranch, berpadu dengan gaya bangunan Minahasa kuno.

Benda-benda kuno ada di dalam gereja itu. Ada mimbar berbentuk datar, kursi mirip di ruang volskraad zaman Belanda dulu, lampu kuno yang biasa menggunakan gas, serta lonceng peninggalan Belanda yang bunyinya bisa menandingi lonceng gereja di Katedral.

Tak hanya benda kuno itu, semua yang ada dalam gereja seolah bicara mengenai masa lalu; pintu, jendela, plafon, tangga, cat putih hijau serta tata letak kursi yang memisahkan jemaat dan majelis. Satu satunya yang modern hanyalah ubin.

Jantje Ngangi, Wakil Ketua Jemaat Imanuel Laikit, mengatakan, kayu yang digunakan adalah cempaka Wasian. Sebelum memotong kayu, para pekerja memanjatkan doa.

“Mereka berdoa agar Tuhan mengokohkan gereja ini. Doa mereka terwujud,” katanya.

Disebutnya, gereja itu dibuat model bangunan Belanda yang ditambah sedikit gaya Minahasa. Untuk zamannya, gereja itu termasuk modern.

“Itu membuktikan para pekerja Tonsea zaman dulu sudah punya keahlian tinggi,” ujarnya.

Begitu rampung, gereja tersebut langsung menyatu dengan denyut nadi masyarakat. Di masa damai, jadi tempat pencerahan masyarakat. Di masa perang, jadi tempat perlindungan.

Dikatakannya, dalam masa perang yang diperkirakannya saat perang mempertahankan kemerdekaan, gereja itu sempat dihujani tembakan dari pesawat terbang. Bekas lubangnya masih ada hingga kini.

“Seng gereja berlubang,” kata dia.

Dikatakan Ngangi, gereja itu dinamakan Malak karena berada di antara Desa Matungkas dan Laikit. “Malak adalah Matungkas dan Laikit,” kata dia.

Singkatan nama itu pula yang menjadikannya unik karena dijadikan tempat ibadah dua jemaat yakni Imanuel Laikit dan Sion Matungkas. Jika ibadah, dua jemaat itu duduk terpisah.

“Namun kini sudah dipisah, kami pukul 7 pagi, Sion pukul setengah sepuluh,” ujar dia.

Gereja itu pun pernah memainkan peran penting sebagai pendamai dua desa yang bertikai. Warga dua desa sadar setelah melihat gereja itu, lantas memutuskan menggelar perdamaian di sana.

Gereja Malak menjadi cagar budaya sejak awal tahun 2000-an. Jika gereja itu tidak dibongkar atau direhabilitasi gereja itu hingga kini, hal itu tidak semata karena status cagar budaya.

“Gereja ini telah menjadi kebanggaan kami. Kami mengingat karya Tuhan yang luar biasa lewat bertahannya gereja ini. Lagipula bangunannya sangat kuat. Lihat saja, tidak ada yang reyot,” terangnya.

Kalaupun hendak dipugar, kata dia, sulit karena ukurannya berbeda dengan saat ini. “Contohnya kayu, tak ada yang jual sesuai ukurannya, jadinya kita harus pesan,” kata dia.

Ia menegaskan, jemaat bertekad mempertahankan gereja ini. Untuk itu, menjadi tugas mereka untuk menanamkan kecintaan gereja itu pada kaum muda.

“Mereka harus punya semangat itu,” kata dia.

Dia pun berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat memperhatikan gereja itu.

“Minimal cantumkan di brosur pariwisata agar banyak turis datang kemari. Ini adalah kesaksian kami. Di Sulut gereja seperti ini tinggal dua,” ujar dia.

Namun, bukan berarti gereja itu tak pernah dikunjungi turis. Disebutnya, sejumlah turis mancanegara pernah mengunjungi gereja itu. Terbanyak dari Belanda.

“Mereka semua kagum,” imbuhnya.

 

Sumber : Tribun

Comments

comments