Peserta Kemah Wirakarya belajar toleransi di pura, gereja dan vihara

Peserta Perkemahan Wirakarya mengunjungi beberapa rumah ibadah, di antaranya Vihara Eka Dharma Manggala. (Humas Kemenag)

Peserta Perkemahan Wirakarya mengunjungi beberapa rumah ibadah, di antaranya Vihara Eka Dharma Manggala. (Humas Kemenag)

KENDARI – Sekitar 200 mahasiswa peserta Perkemahan Wirakarya Perguruan Tinggi Keagamaan (PW PTK) XIII di Bumi Perkemahan IAIN Kendari, Jumat, belajar toleransi dengan mendatangi pura, gereja, dan vihara.

Pertama mereka bertemu dengan Dewa Made Sute (70) imam Pura Wawa yang berasal dari Pulau Dewata. Ia sudah menetap di Kendari sejak 1979 melalui program transmigrasi. Mengenakan kemeja tebal warna putih lengan panjang, Made Sute menerima mahasiswa UIN, IAIN, STAIN, dan PTK Swasta.

Kepada mereka, Made Sute berbagi cerita bahwa Pura yang berlokasi di THR Kota Kendari ini memiliki kurang lebih 200 jamaah yang melakukan ibadah tiap tanggal 15 bulan purnama atau yang dikenal dengan bulan mati. Selain sebagai tempat ibadah, Pura ini sering dijadikan tempat diskusi dan dialog forum lintas agama.

“Gubernur Sulawesi Tenggara dan Walikota Kendari kerap berkenan mengunjungi Pura yang cukup besar ini,” tuturnya dalam siaran pers Kemenag, Jumat.

Bagi Made Sute, kedatangan peserta PW PTK ke Pure merupakan kehormatan. Langkah seperti ini penting untuk lebih saling memahami perbedaan, sekaligus sarana mengembangkan kebersamaan, menghargai, dan tolong-menolong. Dewa Made mengaku kalau keluarganya juga sangat menghormati perbedan.

“Saya mempunyai menantu beragama Islam, dan sudah terbiasa hidup bersama lintas iman. Karena aturan agama kami, seorang istri harus mengikuti suaminya, maka anak saya yang perempuan ketika mempunyai suami orang beragama Islam, dia pun ikut suaminya,” kata Dewa Made Sute.

Kunjungan berikutnya ke Gereja Ora Etlabora yang lokasinya bersebelahan dengan Masjid Agung Al-Kautsar Kota Kendari. Kali ini, mahasiwa peserta PW PTK diterima Pendeta Agustinus Alimin dan salah satu Pengurus Majelis Jemaat, Petrus Sidupa.

Gereja Era Etlabora yang memiliki jamaah sekitar 365 orang dibangun pada tahun 1963. Ibadah rutinnya dilakukan jam 07.00 sampai jam 11.00 pagi dan sore hari jam 17.00 sampai jam 19.00. Gereja dikelola oleh Majelis Jemaat yang beranggotakan 58 orang yang bertugas secara bergantian. Alimin menuturkan bahwa tiap bulan gereja dapat menghimpun dana dari jamaah hingga Rp2 miliar, bahkan kadang lebih.

Pendeta Alimin menyambut positif kegiatan anjang sana para mahasiswa ke rumah-rumah ibadah. “Sering-seringlah berkunjung kemari dan saya amat senang. Umat Kristiani juga saya kira senang sekali dengan kedatangan kalian semua,” kata Alimin.

Pendeta Asal Makassar ini mengaku siap bekerjasama dalam aksi-aksi sosial, membangun rumah ibadah, masjid, terlibat dalam menyiapkan MTQ, dan juga membangun fasilitas umum lainnya.

“Dialog dan kerjasama harus menjadi komitmen bersama untuk mempererat persaudaraan kita, yang hidup di negara kesatuan dengan beragam agama, suku, ras dan antar golongan,” kata Alimin.

Pendeta Alimin juga sempat bercerita tentang keluarganya yang majemuk. “Bapak saya beragama Islam, ibu saya Kristen. Kami sepuluh bersaudara, enam di antaranya Muslim dan empat orang Kristen. Semua hidup rukun saling mendukung,” kisahnya.

Selanjutnya mereka mengunjungi Vihara “Eka Dharma Manggala” yang berlokasi di teluk Kendari. Vihara ini adalah satu dari 4 Vihara yang ada di Kota Kendari. Dibangun pada tahun 1997 dan baru diresmikan 7 tahun kemudian, tepatnya pada Desember tahun 2003. Berdiri di atas tanah 1,7 Ha, vihara ini mempunyai tempat peribadatan 2 lantai yang cukup besar. Tercatat ada sekitar 500 jamaah yang beribadah di tempat ini.

Pengalaman tersendiri

Berkunjung ke Pura memberi pengalaman tersendiri bagi Musthofa, mahasiswa asal Afganistan. Musthofa yang kini duduk di Semster VI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengaku terkesan dengan kerukunan di Indonesia. “Saya tidak bisa membayangkan di negeri kami Afganistan bisa mengunjungi pura, vihara, dan gereja,” katanya.

Kegiatan semacam ini bagi Musthofa penting untuk mengembangkan semangat toleransi antar umat beragama. “Negara-negara Muslim harus belajar dari Indonesia dalam membangun kehidupan yang rukun, damai,” kata Musthofa.

Hal sama dirasakan Ade, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUAD) IAIN Langsa Aceh Timur. Berkunjung ke Pura Wawa adalah pengalaman pertamanya. Sebagai mahasiswa Ushuluddin, Ade mengaku belajar tentang perbandingan agama dan ajaran agar hidup saling memahami dan menghargai perbedaan. “Nah ini bagi saya implelemtasi dari ilmu yang saya pelajari di IAIN,” kata Ade.

Kunjungan ke Rumah Ibadah diakhiri di Masjid Agung Al-Firdaus yang bersebelahan dengan Gereja Ora Etlabora.

Sumber : Antara

Comments

comments